Whaling: Antara Tradisi dan Komersial

Pernah dengar kata “Whaling” sebelumnya? atau bahkan pernah melihatnya di tayangan televisi?. “Whaling” merupakan kegiatan perburuan paus yang biasanya untuk mengambil daging dan minyak (lemak)-nya. Menurut literatur, kegiatan ini sudah berlangsung dari tahun 3000 SM dan masih berlangsung sampai sekarang dengan mengalami perubahan metode dan alat perburuannya. Beberapa komunitas pesisir sudah melakukan perburuan paus secara turun menurun untuk keberlangsungan hidup mereka.

Perkembangan teknologi perkapalan dan revolusi industri pada abad ke-17 sampai abad ke-18 mendorong berkembangnya perburuan yang lebih terorganisir dan bahkan menjadi komoditi industri yang menguntungkan. Pada pertengahan abad ke-20 mulai diperkenalkanlah kapal industri khusus “whaling” yang menyokong bagi peningkatan permintaan dunia akan daging dan minyak dari ikan paus. Bahkan pada akhir tahun 1930-an, perburuan paus mencapai sebesar 50,000 ekor per tahun.

Meningkatnya volume perburuan ikan paus akibat perkembangan industri dan teknologi, memunculkan kekhawatiran dunia akan menipisnya jumlah atau bahkan punahnya beberapa spesies ikan paus. Oleh karena itu, disepakatilah pembentukan badan regulasi kegiatan “whaling” di seluruh dunia dibawah International Whaling Commission (ICW). Badan ini terbentuk dibawah The Convention for the Regulation of Whaling,  yang telah ditandatangani pada tahun 1946 di Amerika Serikat. Pada tahun 1986, ICW mengeluarkan moratorium yang melarang perburuan paus untuk tujuan komersial sampai jumlah populasi paus membaik. Moratorium tersebut cukup efektif dalam mencegah kepunahan spesies paus akibat perburuan komersil yang berlebihan. Namun, saat ini terdapat perdebatan tentang legalisasi perburuan paus terkait dengan motivasi tradisi dan komersialisasi.

Di beberapa bagian dunia ini, produk-produk olahan dari paus memainkan peranan penting dalam siklus kehidupan budaya dan nutrisional dari orang-orang pribumi. Orang-orang pribumi ini menjadi pengecualian dalam moratorium tahun 1986 yang telah dibahas sebelumnya. Hal ini dibedakan dari perburuan paus dengan tujuan komersialisasi atau korporasi. Ijin melakukan perburuan paus atas kebutuhan dasar diberikan kepada Denmark (Greenland), Federasi Rusia (Siberia), St Vincent and the Grenadines (Bequia), Amerika Serikat (Negara Bagian Washington).

Selain dari kebutuhan dasar orang-orang pribumi, pada Artikel III Konvensi Internasional untuk Regulasi Perburuan Paus, kebutuhan untuk penelitian juga dapat dijadikan dasar bagi sebuah negara mendapatkan pengeculian untuk membunuh dan memburu paus untuk dijadikan sampel penelitian. Negara Jepang dan Islandia merupakan negara yang mendapat ijin khusus tersebut.

Khusus untuk perburuan paus dengan tujuan komersial, sejak tahun 1986 IWC mengeluarkan moratorium yang menegaskan penghentian perburuan paus untuk tujuan komersil. Namun, Norwegia dan Islandia masih melakukan perburuan paus untuk tujuan komersil karena merasa keberatan dengan moratorium tersebut. Pada dasarnya, IWC hanyalah bertanggung jawab untuk menentukan batas jumlah tangkapan dari perburuan paus komersial ini.

Masalah terjadi ketika terjadi pelanggaran dan kecurangan terhadap klausul-klausul dalam Konvensi tentang Regulasi Perburuan Paus oleh beberapa negara. Pelanggaran tersebut terkait dengan moratorium yang dikeluarkan  pada tahun 1986 oleh IWC terhadap perburuan paus komersial. Negara-negara seperti Norwegia dan Islandia, masih mempraktikkan perburuan paus di wilayah perairan mereka demi tujuan komersial. Walaupun memang masih dalam pengawasan IWC terkait dengan batas jumlah tangkapannya, terlihat bahwa badan tersebut tidak melakukan penegakan terhadap kesepakatan yang tertuang dalam konvensi. Mekanisme hukuman terhadap pihak-pihak penandatangan kontrak terkait masalah pelanggaran isi Konvensi masih belum dilaksanakan dengan semestinya.

Selain itu, terkait dengan ijin khusus penelitian yang diberikan ke beberapa negara, dijadikan kamuflase dalam perburuan paus secara komersial. Negara Jepang seringkali melakukan modus ini. Mereka, dengan atas nama ilmu pengetahuan, membunuh dan mengambil paus dari laut untuk diteliti. Kemungkinan terjadinya kecurangan akibat dari ijin khusus penelitian ini sangat mungkin terjadi. Dalam hal ini, IWC belum menjalan kontrol ketat tentang pelaksanaan ijin khusus ini terhadap negara-negara penerima ijin khusus tersebut.

Perdebatan yang cukup kontroversial juga terjadi terkait status beberapa komunitas tradisional yang mengklaim diri mereka berhak atas nama budaya dan tradisi untuk membunuh dan memburu paus. Kasus yang paling terbaru adalah terkait status dari Suku Makah di negara bagian Washington, Amerika Serikat sekitar tahun 2005 terkait dengan perburuan paus abu-abu (gray whale). Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di perlindungan dan konservasi lingkungan menentang perburuan paus yang dilakukan oleh suku tersebut. Pertama, karena mereka tidak mendapatkan persetujuan dan ijin perburuan dari IWC. Kedua, karena tidak adanya bukti dan fakta kuat yang mendukung klaim suku tersebut akan tradisi dan kebutuhan mendasar yang didapat dari melakukan perburuan paus tersebut.

Terlepas dari perdebatan tersebut, perburuan paus oleh siapapun, dimanapun, untuk tujuan apapun, pada dasarnya harus dihentikan. Untuk alasan komersial, sudah tentu perburuan paus semacam ini harus segera dihentikan dan dilakukan penegakan kesepakatan terkait pelanggarannya. Terkait dengan perburuan paus tradisional, persyaratan untuk mendapatkan ijin khusus seharusnya diperketat dan diperjelas ketentuannya. Alasan pertama, tradisi dan budaya tidak seharusnya didasarkan semata-mata pada pembunuhan. Ijin khusus bagi komunitas tradisional harus lebih kepada sifat mendesak demi kelangsungan hidup komunitas tersebut. Alasan kedua, paus tidak seharusnya diburu dan dibunuh kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun, karena paus merupakan hewan yang memiliki kecerdasan yang tinggi dan memiliki hubungan sosial yang kompleks satu sama lain dimana jumlah mereka didunia sudah sangat memprihatinkan.

(Berikut adalah gambar beberapa jenis paus yang diburu)

ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s