Perubahan Ekologi di Benua Afrika

            Benua Afrika merupakan benua yang memiliki beragam bentuk ekologi dan habitat yang menjadi tempat bagi ribuan spesies hewan dan tumbuhan tinggal. Benua Afrika juga menjadi tempat bagi ratusan juta penduduk yang menempati benua tersebut. Perubahan dari tahun ke tahun telah mengubah wajah Afrika. Pertumbuhan penduduk, perkembangan industri, dan perubahan iklim telah mengubah gambaran permukaan Afrika. Beberapa hal yang telah berubah, sebagian besar adalah penampakan alam yang terkait habitat bagi hewan dan manusia.

 

Citra satelit pada tahun 1972 (kiri) dan tahun 2007 (kanan) memperlihatkan penurunan tinggi permukaan air di Danau Chad, yang merupakan danau terbesar keenam di dunia. Di perbatasan antara Nigeria, Niger, Chad, dan Kamerun, saat ini danau tersebut hanya sepersepuluh dari ukuran sebelumnya. Hal tersebut disebabkan oleh penurunan tingkat curah hujan dan beragam penggunaan air bagi kepentingan manusia. Gambar tersebut merupakan bagian dari buku yang berjudul Afrika: Atlas of Our Changing Environment, yang diterbitkan oleh PBB untuk mengilustrasikan bagaimana perubahan iklim telah mempengaruhi benua tersebut.

 

Kairo, wilayah paling padat penduduk di Afrika, yang terletak di negara Mesir diperlihatkan pada gambar kiri (1972) dan kanan (2005). Ledakan penduduk telah mendorong perluasan kota, yang meliputi sebagian besar lahan yang dapat ditanami di sekitar Sungai Nil, menurut atlas yang dikeluarkan PBB pada tahun 11 Juni 2008. Sebuah survei yang diterbitkan oleh organisasi konservasi, WWF, menempatkan Mesir, Libya, dan Aljazair di peringkat paling atas dari daftar negara-negara di Afrika yang telah hidup di luar batas ekologis mereka.

 

Gambar di atas memperlihatkan wilayah di Mali pada tahun 1978 (kiri) dan 2004 (kanan). Gambar tersebut memperlihatkan cadangan air yang dibentuk oleh bendungan Manantali di Mali. Bendungan tersebut sebelumnya merupakan lahan pertanian yang subur dan merupakan sumber penghidupan bagi penduduk di daerah tersebut. Namun dengan adanya bendungan tersebut, hilanglah siklus banjir tahunan yang menyebabkan menurunnya pertanian secara signifikan.

 

Deplesi wilayah pantai yang kaya dengan sumber daya alam di Guinea diperlihatkan pada gambar satelit dari tahun 1975 (kiri) dan tahun 2007 (kanan). Populasi penduduk di Semenanjung Kaloum (sebelah kiri bawah di kedua gambar tersebut) meningkat tiga kali lipat selama tahun 1963 sampai tahun 1996, berdasarkan atlas PBB yang diterbitkan pada 11 Juni 2008. Wilayah pantai di Guinea merupakan rumah bagi seperempat tumbuhan mangrove (bakau) Afrika Barat. Namun, penyebaran wilayah pemukiman kota telah merusak pohon-pohon yang membantu menjaga kestabilan garis pantai dan berfungsi sebagai tempat berkembang biak bagi ikan.

 

Danau Faguibine, Mali (sebelah atas di kedua gambar) secara perlahan menghilang antara tahun 1974 dan 2006. Tinggi permukaan air danau tersebut berubah secara bervariasi selama ratusan tahun belakangan. Namun, perpanjangan periode kekeringan pada tahun 1980an menyebabkan danau menghilang seluruhnya pada tahun 1990an. Danau tersebut tidak dapat dipulihkan kembali, walaupun dengan curah hujan normal dalam tahun-tahun ini.

 

Gunung Kilimanjaro di Tanzania telah mengalami penurunan glacial secara drastic antara tahun 1976 (kiri) dan 2006. Wilayah glacial di puncak gunung telah menurun sebanyak 80 persen sejak awal abad kedua-puluh. Walaupun glasier telah mencair di seluruh dunia akibat dari meningkatnya temperatur bumi, lapisan es Kilimanjaro mencair karena penurunan curah hujan. Lapisan es yang mencair tidak memberikan banyak manfaat bagi wilayah yang lebih rendah, karena air yang berasal dari pencairan lapisan es tersebut menguap terlalu cepat. Kondisi yang lebih kering tersebut mendorong adanya peningkatan potensi kebakaran. Batas atas dari wilayah hutan telah menurun secara signifikan, saat hampir 15 persen dari luas hutan di sekitar Kilimanjaro hancur terbakar semenjak tahun 1976.

 

Pada tahun 1973, kolam penguapan garam di Pantai Walvis, Namibia masih relatif kecil (gambar di sebelah kiri yang berbentuk segi empat berwarna merah dan biru di tengah laguna). Kolam yang memproduksi lebih dari 400 ribu metriks ton garam berkualitas tiinggi setiap tahunnya, telah bertambah luas sehingga meliputi seluruh laguna (seperti yang diperlihatkan gambar satelit sebelah kanan pada tahun 2005). Jalur ombak, lapisan lumpur, dan tepi pasir di pantai tersebut mendukung kehidupan hampir 150.000 burung, termasuk African black oystercatcher, flamingo, chestnut-banded plover dan black-necked grebe.

 

Advertisements

7 thoughts on “Perubahan Ekologi di Benua Afrika

  1. lambat laun , sadar atau tidak sadar , dunia sudah sedikit demi berubah . oleh sebab itu jangan memperparah ekologi perubahan dunia .

    SAVE OUR NATURE
    and
    STOP GLOBAL WARMING

    • saya tertarik sekali dengan masalah budaya, apalagi generasi sekarang mulai tergerus dengan budaya pop, oleh karena itu saya mencoba membahas dan melestarikan salah satu budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia. Mohon masukan dan dukungannya ya, makasih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s