Apa Yang Dapat Diharapkan Dari UNFCCC di Bali (?)

Situasi Konferensi Perubahan Iklim di BaliSekitar seratus pemimpin dunia akan hadir dalam pertemuan tingkat tinggi yang diadakan di Nusa Dua, Bali, mulai dari tanggal 3 sampai 13 Desember 2007. Tanggal tersebut mengingatkan kepada kita sekali lagi pada pertemuan yang sama, sepuluh tahun yang lalu, pada tanggal 1 sampai 11 Desember 1997 di Kyoto, Jepang yang menghasilkan Protocol of Kyoto. Sekilas tema di atas dapat ditangkap sebagai ungkapan pesimistis dan apatis menjelang digelarnya United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Memang, pertanyaan (pernyataan—red) tersebut diatas bukanlah ungkapan kosong belaka. Hal ini melihat kembali dari hasil perundingan UNFCCC ketiga, sepuluh tahun yang lalu, di Kyoto. Walaupun pada akhirnya perundingan menghasilkan ketentuan yang diharapkan yakni dengan disepakatinya oleh negara-negara peserta tentang pengurangan emisi kolektif dari enam gas efek rumah kaca seperti karbondioksida, metana, nitrogen oksida, hidro fluorocarbon, per fluorocarbon dan sulfur heksaflourida. Namun, sangat disayangkan bahwa Amerika Serikat sebagai emiter (penghasil emisi) paling besar tidak meratifikasi protokol yang padahal nantinya akan menguatkan komitmen negara-negara peratifikasi dalam mengimplementasikan klausul-klausul yang disepakati di dalam Protokol Kyoto. Keputusan Amerika Serikat tersebut sangat mengurangi efektifitas dari protokol dalam mengurangi emisi gas.

Selain dalam isu pengurangan emisi karbon, pertemuan tingkat tinggi di Bali juga akan membahas beberapa isu lain yang sebagian besar akan menyangkut evaluasi dari implementasi kesepakatan-kesepakatan yang sebelumnya sudah ditetapkan dalam Protokol Kyoto. Pembahasan akan berkutat sekitar masalah perdagangan emisi, Clean Development Mechanism (CDM), implemetasi kebijakan dari negara-negara industri, implementasi bersama dari negara-negara industri, komitmen dari negara-negara peserta, dan prosedur-prosedur tindakan pelanggaran. Dari seluruh bahasan tersebut yang menjadi isu utama dalam pertemuan adalah bagaimana peran negara-negara maju (developed countries) dan negara-negara berkembang (developing countries) dan hubungan antara keduanya dalam beberapa isu terutama pengurangan dan perdagangan emisi serta dalam Clean Development Mechanism (CDM). Diskusi dan perdebatan alot terjadi di antara dua kelompok negara mengenai tanggung jawab masing-masing dalam masalah efek rumah kaca. Walaupun,sudah terdapat sebuah mekanisme tanggung jawab bersama namun berbeda (common but differentiated responsibilities), yang diharapkan dapat mengurangi ketegangan pendapat antara negara maju dan negara berkembang, namun dalam perumusan kebijakan dan implementasinya mekanisme tersebut tidak berjalan efektif. Negara-negara berkembang kerap merasa dirugikan dengan beberapa klausul-klausul dalam protokol, terutama dalam isu pengurangan emisi dan CDM.

Konferensi Tandingan

Mungkin kenyataan tersebut diatas juga yang mendorong adanya rencana dari beberapa organisasi non-pemerintah internasional untuk mengadakan pertemuan tandingan terhadap UNFCCC yang akan diadakan di samping Bali Convention Center, Nusa Dua, dimana UNFCCC diselenggarakan. Pertemuan tandingan tersebut akan diselenggarakan oleh Lembaga-lembaga swadaya masyarakat dari federasi organisasi lingkungan Friends of the Earth, yang beranggotakan 70 organisasi di 70 negara. Bersama dengan Federasi Petani Se-Dunia, pertemuan tandingan tersebut akan membahas agenda penanganan masalah perubahan iklim dari perspektif ekonomi dan perdagangan, termasuk masalah utang luar negeri. Pertemuan tandingan yang diadakan organisasi-organisasi non-pemerintah tersebut, didorong oleh kekecewaan mereka terhadap ketetapan-ketetapan Protokol Kyoto yang dinilai tidak dapat menyelesaikan masalah pemanasan global secara efektif dan cenderung menguntungkan negara-negara maju dan merugikan negara-negara berkembang. Salah satu ketentuan yang menjadi kekecewaan mereka adalah ketentuan perdagangan emisi yang didalamnya disepakati bahwa terdapat mekanisme jual dan beli kuota emisi antar negara. Jika sebuah negara mengalami batas emisi yang melebihi ketentuan protokol maka negara tersebut dapat membeli kuota emisi negara lain yang tidak terpakai. Hal ini tentunya akan menimbulkan dua permasalahan, yakni kecenderungan bahwa yang hanya membeli kuota emisi tersebut hanyalah negara-negara industri maju,sedangkan negara-negara berkembang hanya akan menjadi ‘penjual’ emisi. Dengan kenyataan tersebut, masalah kedua muncul yakni negara-negara maju hanya akan menggantungkan kebijakan pada mekanisme perdagangan emisi dan tidak mengimplementasikan kebijakan domestik untuk mengurangi emisi di negaranya.

Namun, terlepas dari adanya rencana pertemuan tandingan UNFCCC di Bali, organisasi-organisasi non-pemerintah internasional dari civil society forum menghadiri KTT tersebut. organisasi-organisasi non-pemerintah yang akan hadir di KTT Bali berasal dari Kolombia, Kostarika, Honduras, Brazil, Argentina, Amerika Serikat, Kanada, Filipina, Papua Nugini, Thailand, Malaysia, India, Bangladesh, China, Jepang, Afrika Selatan, Australia, dan negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Walaupun posisi mereka lemah jika dibandingkan dengan posisi pemerintah-pemerintah resmi negara yang hadir, namun kehadiran organisasi-organisasi tersebut akan sedikit banyak mempengaruhi jalan perundingan.

Apa yang diharapkan?

Banyak pihak berharap pertemuan di Bali akan membawa kesepakatan yang lebih nyata dan dapat disepakati oleh semua negara peserta terutama negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat. Dengan adanya pertemuan UNFCCC ini, diharapkan dapat menekan negara maju dan merancang mekanisme yang tepat dalam rangka meningkatkan peran negara-negara tersebut dalam mengurangi emisi karbon. Harapan tersebut tidak berlebihan jika melihat data stastistik yang menunjukkan negara-negara industri maju merupakan penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Amerika Serikat merupakan negara emiter terbesar dengan nilai emisi (2004) sebesar 6.064 meter ton per tahun , yang disusul oleh China dengan nilai emisi sebesar 5.007 meter ton per tahun, kemudian, Rusia, India, Jepang, Jerman, Kanada, Inggris, Korea Selatan, dan Italia di peringkat sepuluh dengan nilai emisi sebesar 425 meter ton per tahun.

Dalam sebuah laporan dari Human Development Report yang berjudul Fighting Climate Change: Human Solidarity in a Divided World, negara-negara maju harus berperan utama dalam mengurangi emisi karbon sebesar 30 persen pada tahun 2020 dan 50 persen pada tahun 2050 dibandingkan dengan level emisi karbon pada tahun 1990. Selain itu, juga diharapkan adanya peningkatan dari investasi oleh negara-negara maju dalam program pengurangan emisi di negara-negara berkembang sebesar 86 miliar dolar AS per tahun. Investasi yang terjadi baru sebesar 26 miliar dolar AS per tahun dan nilai tersebut masih belum dapat menutupi biaya program pengurangan emisi di negara-negara berkembang.

Indonesia, dalam hal ini, memiliki peranan dan posisi penting dalam KTT di Bali yang dihadiri oleh lebih dari seratus negara tersebut. Indonesia, selain sebagai tuan rumah konferensi, namun juga berpengaruh dalam kelompok negara-negara berkembang terutama yang tergabung dalam kelompok G-77. Indonesia diharapkan dapat mengambil posisi yang lebih tegas dan berani dalam menekan negara –negara industri maju untuk memperjuangkan kepentingan kelompok negara-negara berkembang dalam perundingan. Dengan itu, Indonesia diharapkan pula mampu merangkul negara-negara berkembang untuk memiliki satu pendapat dalam isu perubahan iklim terutama yang terkait dengan perbenturan kepentingan antara negara-negara maju dan berkembang. Namun, hal yang juga tidak kalah pentingnya adalah bagaimana pemerintah dapat memperjuangkan kepentingan Indonesia dalam isu lingkungan terutama yang menyangkut ketentuan-ketentuan CDM di Indonesia yang dinilai tidak relevan dan merugikan posisi Indonesia. Selain itu, Indonesia juga harus memperjuangkan masalah peran negara-negara industri maju dalam penanggulangan emisi karbon di Indonesia, mengingat banyak negara-negara industri maju yang membangun industri di Indonesia. Pada akhirnya, Indonesia harus mengatur langkah dalam rangka mengambil kesempatan besar yang ditawarkan dalam penyelenggaraan KTT di Bali sebagai jalan memperjuangkan kepentingannya di tingkat internasional.

Advertisements

12 thoughts on “Apa Yang Dapat Diharapkan Dari UNFCCC di Bali (?)

  1. btul bgt t.global warming dh mjd mslh dunia yg parah bgt.Protokol Kyoto kykny cm smntara ja pengaruhnya.lgan hslny gak ada!Makannya diharapkan dr UNFCCC yg ketiga ni, global warming dpt diatasi.jgn cm pertemuan yg shrsnya berguna ini cm jd ajang ribut doank.dunia butuh hasil yg konkrit.buat amerika jgn gt donk, ksian satu dunia, cuma gr” Amerika gk stuju dgn Protokol Kyoto, dunia jd kena ruginya.Smg kl hasil UNFCCC ke3 ni memuaskan dan menjamin, Amerika dan negara lain mau mengurangi GLOBAL WARMING di dunia !

  2. Di UNFCCC ke3 ini aku harapkan menjadi hasil yang dipatuhi dan ditaati oleh insan – insan manusia di seluruh dunia.Jadi Global Warming dapat dikurangi di dunia. Aku prihatin dengan keadaan dunia sekarang ini, belum ada suatu solusi yang secara aktual mengurangi masalah Global warming. Kalau bisa keputusan UNFCCC nantinya merekap segala keputusan yang tidak merugikan negara bagian manapun tetapi malah membuat keadaan dunia menjadi lebih baik.Ok??Semua orang berharap penuh akan hasil keputusan UNFCCC ke3 di Bali ini.Berikan hasil yang terbaik ya…

    `hiduppTISSUE`

  3. hadduh..kalau maw berharap c gampang.. tapi yang susah tu adalah bertindak supaya harapan kita terkabul. kita jangan berharap UNFCCC bisa langsung mengatasi Global Warming..Ayo, bertindak bersama-sama supaya kita bisa punya Bumi yang sehat lagi. kurangin pemakaian plastik, listrik, dan stop pembakaran hutan. ingat, kita adalh penyumbang emisi karbon terbesar ke tiga di dunia. ironisnya 80%nya berasal dari kebakaran Hutan..hix..rugi berjuta kali lipat.. maka dari itu, mari semua mendukung anti Global Warming..

  4. betul itu…kalo mao beda a harus dari diri sendiri n dari hal yang kecil juga dari sekarang (kayak aa Gym gw..)

    Tapi, gw menyangsikan hasil UNFCCC di Bali kali ini yang bahasannya bakalan berkutat masalah perdagangan emisi karbon(carbon trading) n masalah pembatasan emisi karbon yang bahkan AS sendiri belum ratifikasi..makanya kalo Indonesia gak bisa memanfaatkan kesempatan sebagai tuan rumah untuk mendesak negara-negara maju untuk mengurangi emisi n membantu negara-negara berkembang (miskin-red) kayak Indonesia buat menjalankan program anti global warming khususnya masalah emisi karbon n CDM…

  5. setuju, kalau perlu perusahaan asing dan perusahaan swasta nasional di Indonesia di tindak tegas tentang masalah polusi udara yang dihasilkan dan juga pengelolaan limbah. kalau hanya sebagai tuan rumah KTT ini tetapi tidak dapat menjalankan program anti global warning itu sama saja bohong. Untuk Pak Presiden kita, tolong bapak lebih tegas menanggapi masalah ini! agar bapak menjadi panutan seluruh Rakyat Indonesia. saya akan terus mendukung langkah positif bapak. semoga dengan adanya Program Anti Global Warning, Indonesia dapat lebih maju lagi. Wassalam

  6. hasil dari UNCCC di Bali, buat gw, dapat nilai 70 dari skala 100.
    kita harus mau mengakui banyak kesepakatan positif yang dihasilkan dari konferensi ini. salah satunya Dana Adaptasi dan REDD.
    Kita jangan berharap terlalu banyak pada Konferensi Bali ini.
    Dari awal NGO-NGO besar seperti WWF sudah mengatakan bahwa pertemuan ini tidak lebih dari pernyataan komitmen. mau menyatakan komitmen aja sudah syukur!
    Jadi, mari kita tuntut permintaan yang lebih besar pada UNCCC di Polandia tahun 2008 dan penentuannya di Kopenhagen 2009.

  7. mengapa amerika masih berkeras..
    nak tunggu lapisan ozon di negara tu berlobang sepenuhnya baru nak berubah? they’re very selfish. salah mereka, tapi seisi dunia yang merase akibatnye. tidakkah kita prihatin??

  8. aku gak setuju bos dengan yang namanya perdagangan karbon atau jasa ekologis atau biasa disingkat REDD. Perdagangan tersebut hanya perangkap negara industri untuk melanggengkan kerjanya merusak bumi. Dengan dibayarnya jasa ekologis mereka merasa boleh memproduksi karbon sesukanya, karena mereka menganggap sudah menebus dosa mereka dengan uang. Yang ada ntar kita yang disudutkan apabila kita tak mampu menjaga hutan karena sudah mengambil uang hasil jasa ekologis tersebut.
    Segala sesuatu yang berorientasinya uang pasti tidak akan jelas juntrungannya.
    solusinya adalah jangan kampanyekan sadar lingkungan dengan iming-iming uang, karna jika suatu saat tidak punya uang maka kesadaran lingkungan tidak ada. Kampanyekan sadatr lingkungan demi masa depan anak cucu kita.
    Ingat..!! Kita jangan terperangkap dengan politik kapitalis barat.

  9. amerika akan tetap AROGAN !!!! kata lain, amerika ngajakin perang secara halus. memanfaatkan negara-2 kecil untuk memback up masalah dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s