Penculikan Raisya: Kepedulian atau Aji Mumpung

Masih ingat bukan dengan drama penculikan seorang anak bernama Raisha yang di’jemput’ paksa oleh para penculiknya selama lebih dari satu minggu sejak tanggal 15 Agustus 2007 yang lalu. Pada akhir cerita, para penculik tertangkap satu per satu mulai Kamis malam (23/8) sampai Raisya pun bisa diselamatkan dari sekapan para penculik dan diserahkan kepada orang tuanya.

Kejadian ini memang sudah berlalu dan Raisya pun sekarang sudah mulai melakukan rehabilitasi mental atas trauma psikis akibat peristiwa penculikan yang dialaminya. Namun, masih banyak kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam peristiwa penculikan tersebut. Kejanggalan-kejanggalan mulai dari pemberitaan media yang ramai menyorot kasus penculikan tersebut, motif dan status para penculik, hingga pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap isu tersebut.

Pertama, pemberitaan media yang terjadi atas peristiwa penculikan Raisya selama Raisya diculik dan saat Raisya kembali ke dekapan orang tuanya dinilai BERLEBIHAN. Penulis memaklumi jikalau media massa memiliki kepentingan akan pemberitaan yang heboh, bombastis, beneficial, dan yang pastinya dapat menaikkan rating acara gosip dan siaran berita mereka. Namun, kalau ini juga terjadi pada sebuah lembaga resmi seperti Komisi Nasional Perlindungan Anak yang terkenal karena tokohnya Kak Seto yang sering ‘nongol’ di layar kaca televisi, maka hal ini sudah tidak dapat dimaklumi.

Penulis tidak bermaksud meremehkan kinerja yang telah dilakukan selama ini, termasuk yang tidak ter-cover oleh media. Penulis hanya mempertanyakan motif lembaga tersebut untuk menangani secara serius pemasalahan anak di Indonesia. Tidak ada yang salah dan menyimpang dari perhatian lembaga tersebut terhadap kasus Raisya. Namun, dari rentetan kinerja lembaga tersebut yang terlihat di media, kita (masyarakat penonton siaran berita dan infotaintment) melihat lembaga ini, sebagian besar hanya mengurusi anak-anak artis yang bapak-ibunya ‘rebutan’ anak, atau bapak-ibunya yang mau cerai. Semenjak awal penulis biasa saja dengan pemberitaan mengenai penculikan Raisya, tapi kok lama-kelamaan semakin tidak biasa dan berlebihan bahkan cenderung aneh.

Ternyata sama saja, kekayaan dan kepopuleran merupakan sesuatu yang harus lebih diperhatikan ketimbang yang kurang kaya (miskin-red) dan tidak populer, bahkan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak yang seharusnya bersikap lebih wajar dalam kasus ini. Kenapa penulis bilang harus wajar? Karena menurut catatan KNPA, kejahatan penculikan tercatat sebanyak 86 kasus pada tahun 2006 dan bahkan sebelum kejadian kasus Raisya, sudah ada 50 kasus penculikan anak yang terjadi. Lalu kenapa kasus Raisya jadi sorotan sekali ya?.

Kedua, adalah kurang kerjaannya BAPAK PRESIDEN kita memberikan pernyataan kepresidenan tentang masalah penculikan Raisya (gila!!what the h**l is going on here??). Penulis bukan seorang yang tidak berperasaan dengan nasib yang dialami oleh Raisya. Tapi, (eeeh—saking greetan—hampir speechless gw!) untuk apa seorang presiden memberikan pernyataan kepresidenan terhadap kasus Raisya yang dinilai kecil. Penulis beranggapan bahwa presiden akan memberikan suatu pernyataan presidensial kalau ada kasus yang membahayakan negara atau paling tidak berskala nasional, berkaitan dengan ceremonial kenegaraan, atau mau menyatakan perang.

Masalah Raisya cukup ditangani kepolisian tingkat sektoral (polsek), bahkan kalau sampai Kapolda kita juga memberikan pernyataan tentang kasus Raisya, penulis juga akan beranggapan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang overacting. Inget bos..You have another big problem to solve immediately and should be given a first priority, Lumpur Lapindo masih panas dan bergejolak bung. Saat penulis mengetahui bahwa Presiden, yang didampingi oleh Mutia Hatta—Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (mau apa coba tuh menteri, karena Raisha perempuan?), Maftuh Basuni—Menteri Agama (Ini lagi, ngapain urusannya?karena yang diculik anak orang Arab?atau karena pelakunya anggota NII?lho..khan saat itu pelakunya belum tertangkap), dan Andi Mallarangeng—Juru Bicara Kepresidenan (kalo ini maklum, kalo tidak ada dia siapa yang manggut-manggut?) sekilas penulis menarik nafas dalam-dalam, merenungkan betapa tidak bijaksananya para pemimpin negeri ini. Sehingga penulis bertanya kembali, ada apa dengan kasus penculikan Raisya ini?

Ketiga, setelah para penculik ditangkap, terkuaklah misteri drama penculikan Raisya. Menurut pemberitaan yang marak, penculik melakukan kejahatan tersebut karena desakan ekonomi akibat bankrutnya usaha jual beli buku yang mereka kelola. Selain itu, latar belakang mereka justru merupakan hal yang paling utama. Mereka dikenal sebagai alumni dan anggota rohis yang aktif dalam kegiatan keislaman di sekolahnya. Saat penculik mendengar kabar bahwa para penculik merupakan alumni dan anggota rohis, penulis langsung menebak, “Ini pasti NII,” dan kenyataan di lapangan ternyata sesuai dengan perkiraan (kalo ngebahas NII panjang, jadi di sesi lain aja). Lalu penulis berpikir, apakah ini yang mendorong presiden dan menteri agama mengeluarkan pernyataan kepresidenan?seharusnya ada satu pihak lagi yang mendampingi presiden saat konferensi pers, yakni kepala BIN (Badan Intelijen Nasional), mungkin khan?

Ternyata, teori lama Orde Baru dipakai lagi..

Awas hati-hati bos nanti kepleset lagi..HeHeHe

Buat Orang Miskin dan Orang Tidak Populer!!

jangan sampai keculik yah..

Jangan-jangan nanti di-cuek-in lagi

Gara-gara tidak punya nilai strategis secara politik dan ekonomi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s