My Journey to Nanggroe Aceh Darussalam (2)

Excited, mungkin itulah kata yang dapat menggambarkan perasaan saya sewaktu akan berangkat ke Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Kami, yakni saya dan dua orang anggota tim relawan serta dua orang tim pengurus LSM , berangkat diantar dengan mobil kijang dari rumah salah satu pengurus LSM di daerah Bekasi. Pagi-pagi sekali setelah shalat shubuh dan sarapan kami langsung berangkat. Entah karena terlalu senang atau karena masih ngantuk, semua yang ada di mobil terdiam selama perjalanan ke bandara. Isi mobil baru ‘aktif’ ketika mobil sudah memasuki jalan tol Cengkareng. Sampai di bandara kami semua turun dan melihat bahwa semua tim relawan dan pengurus sudah berkumpul di depan pintu masuk bandara. Lama menunggu untuk check-in, sekalian juga kami menunggu satu tim relawan yang belum hadir karena ia berangkat langsung dai rumahnya. Saat menunggu, pengurus LSM member kami rompi relawan berwarna abu-abu, yang kalau diperhatikan mirip seragam Brimob (yang mungkin akan menjadi sedikit masalah ketika di Aceh). Rompi tersebut bertuliskan program Save Acehnese Children di bagian belakang dan logo LSM Peace Foundation dan logo Exxon MobilOil yang merupakan pihak sponsor kegiatan LSM tersebut. Selain itu kami juga dibagikan name tag yang bertuliskan nama relawan dan tentunya tulisan Volunteer sebagai tanda pengenal saat di Aceh nanti.

Setelah foto-foto, semua perlengkapan siap, dan anggota tim yang kami tunggu sudah tiba, langsung saja kami masuk ke dalam bandara untuk check-in. Jumlah orang yang berangkat ada 15 orang yakni 10 orang tim relawan dan 5 tim pengurus LSM. Sebelumnya, kami memilih ketua tim relawan yang akan bertanggung jawab terhadap semua proses kegiatan tim di Aceh. Maka, dipilihlah saya dengan alasan bahwa saya merupakan anggota termuda dalam tim saya (saat itu saya masih 19 tahun, sedangkan yang lain 23 tahun ke atas). Kami masuk ke bandara dengan bawaan yang begitu banyak mulai dari bahan-bahan makanan, alat-alat tulis dan perlengkapan permainan, serta barang-barang lainnya yang akan dibagikan di daerah pengungsian. Sekilas orang-orang di sekitar kita melihat dengan tatapan aneh karena kami memang membawa barang bawaan yang besar dan berat serta banyak sekali. Namun, mungkin karena kami sudah memakai rompi relawan sehingga semua yang melihat kemudian mengerti, apalagi saat itu kegiatan relawan khususnya relawan Aceh dan Nias masih marak. Setelah semua diurus dan barang-barang bawaan diserahkan kepada pihak bandara untuk dipindahkan ke bagasi pesawat maka kami langsung masuk ke ruang tunggu bandara. Selama perjalanan ke ruang tunggu, ada peristiwa yang (semoga dianggap) lucu, saat petugas keamanan bandara memeriksa kelengkapan tiket pesawat kami semua tidak diperbolehkan masuk (bukan karena saya berjenggot) tapi karena kami lupa membayar asuransi dan pajak. Alhasil, kami harus balik arah ke loket pembayaran yang cukup jauh dengan bawaan yang rata-rata lebih dari 25 kg. Setelah kami diperbolehkan masuk kami melanjutkan perjalanan ke ruang tunggu. Saat saya memasuki daerah security scanning saya iseng-iseng melihat gerak-gerik petugas yang melakukan scanning. Tepat dugaan saya, petugas tidak terlalu awas dalam memperhatikan setiap bawaan yang diperiksa. Seharusnya pertugas selalu memperhatikan barang bawaan yang diperiksa tapi petugas malah melihat kearah lain. Sekilas saya berpikir, bagaimana kalau saya bawa alat peledak atau senjata api. Ini sih bakal memudahkan kelompok teroris masuk ke bandara tanpa pemeriksaan yang ketat. Terus, bagaimana kalau ada pesawat di bajak lalu menabrakkannya ke monas atau gedung BNI ’46?

Sampai juga kami di ruang tunggu bandara yang saat kami sampai sudah ada banyak penumpang lainnya yang menunggu. Sembari menunggu pesawat datang, kami foto-foto lagi (getol!). Selain itu, pengurus juga membagikan kami masing-masing sebuah amplop yang (katanya) berisi biaya hidup kami selama di Aceh. Menurut tim pengurus, isinya berjumlah 1,2 juta rupiah yang diperuntukkan biaya hidup saja. Sedangkan dana kegiatan lainnya merupakan tanggung jawab pengurus. Karena ini perjalanan yang panjang dan lama dan tentunya jauh dari keluarga, saya menelepon ibu saya dulu minta doa dan restunya karena mau pergi jauh ke ujung Sumatera. Terus terang saja, saya tidak pernah pergi meninggalkan keluarga selama dan sejauh saat itu. Pesawat sudah tiba, kamipun langsung menuju lapangan bandara menuju pesawat Adam Air yang sudah menunggu. Tidak ada yang terlalu istimewa saat berada di dalam pesawat menuju Bandara Polonia, Medan. Namun, saya agak sedih karena tidak memperoleh posisi tempat duduk di sebelah jendela. Namun, satu suasana yang berbeda karena saya duduk tidak dengan teman-teman relawan. Tapi dengan seorang ibu yang duduk di sebelah jendela dan anak perempuannya masih remaja (katanya masih SMA) yang duduk di sebelah saya. Ibu dan anaknya yang lumayan cantik itu (he3x), pergi ke Aceh karena ingin menengok saudara mereka paska tsunami, sedangkan anak perempuannya baru pertama kali ke Aceh (sama dong sama saya). Mungkin hanya itu saja sih yang membuat perjalanan sedikit menyenangkan.

Hal yang lucu dan mendebarkan justru terjadi pada waktu kami melakukan penerbangan dari Bandara Polonia ke Bandara Blang Bintang, Banda Aceh. Saat itu kami harus bertukar pesawat lainnya yang akan menuju Aceh. Awalnya, saya berpikir bahwa keadaan akan sama saja dengan pesawat sebelumnya. Namun, keanehannya segera terjadi ketika pesawat mulai melakukan take-off. Mesin pesawat lebih berisik dibandingkan dengan pesawat sebelumnya, saat berjalan menuju take-off pun sedikit lebih kasar. Saya pikir cukup itu saja keanehan dari pesawat ini. Tapi keanehan berlanjut ketika para pramugari memperagakan alat-alat standar keselamatan di dalam pesawat jika suatu saat terjadi kecelakaan. Keanehan terlihat pada pramugari yang melakukan peragaan, mukanya berkeringat tidak sedikit (dan saya baru sadar bahwa sepertinya Air Conditioner pesawat yang satu ini kurang berfungsi baik). Alhasil, pramugari tersebut memperagakan sambil menyeka keringat berulang-ulang, malas-malasan (mungkin karena panas berkeringat), senyum tidak ada, walaupun ada terlalu dipaksakan, pokoke tidak beres. Keanehan yang lainnya adalah saat pesawat melakukan landing. Setelah keanehan yang terjadi sebelumnya, proses landing yang tidak mulus semakin melengkapi keanehan-keanehan. Landing pesawat tidak mulus karena saya mendengar suara gesekan ban yang berbeda dengan pesawat sebelumnya saat landing. Selain itu, goncangan saat pesawat landing diluar toleransi kewajaran. Fuih..namun akhirnya mendarat juga dengan selamat. Mungkin hal inilah yang tidak mengagetkan saya ketika setelahnya pesawat-pesawat Adam Air dikabarkan hilang, jatuh, ataupun mengalami kerusakan mesin. Tidak sampai disitu, ‘penderitaan’ berlanjut karena satu perangkat walkman raib di dalam bagasi pesawat. Tidak ada mau bertanggung jawab bahkan pihak perusahaan penerbangan maupun bandara. AKhirnya, saya pasrah dan menerima kejadian tersebut sebagai pelajaran.

Sesampainya kami di Bandara Blang Bintang, Banda Aceh, terik panas matahari langsung menyeruak dan menyambut kami dengan semangatnya. Saya langsung berkomentar, bahwa ternyata Aceh panas banget lebih panas daripada kota Jakarta yang terkenal panas. Jujur saja nih, sebenarnya pakaian-pakaian yang saya bawa sebagian merupakan jaket dan baju tebal. Saya ingat cerita guru SMA saya yang berasal dari Aceh bahwa Aceh itu dingin. Tapi, dipikir-pikir lagi, guru tersebut bercerita Aceh yang di daerah Takengon, yang notabene dataran tinggi seperti Puncak di Bogor. Yo wis, saya tidak memikirkan kembali masalah ‘salah kostum’ saya. Karena justru saya sedang merenung bahwa akhirnya saya menjejakkan kaki ke tanah Aceh yang memang sudah lama didambakan. Apalagi keindahan alam yang ditawarkan saat kami keluar pesawat semakin menambah semangat kami bekerja di Aceh. Setelah beberapa lama menunggu untuk mengambil barang-barang bawaan dari bagasi pesawat, Ibu dan anak perempuan, yang selama perjalanan duduk bersama saya, mengucapkan selamat tinggal dan langsung pergi.

Perjalanan kami selanjutnya adalah menuju pengungsian korban tsunami dari Pulau Aceh di daerah Seuliemeum, Aceh Besar. Sebelumnya, kami menyewa sebuah mobil pick-up untuk mengangkut barang-barang-bawaan dan semua tim relawan yang ada. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, kami sampai juga di daerah Seuliemeum. Awalnya, saya sempat merasa aneh karena saya tidak melihat tenda-tenda ataupun pengungsi yang merupakan hal yang biasa terlihat kalau berada di pengungsian. Justru kami sampai di lapangan sebuah sekolah dan disambut oleh anak-anak kecil setingkat SD yang dengan semangatnya menyalami kami dan membantu menurunkan dan memindahkan barang-barang bawaan kami. Di sana kami juga bertemu dengan tim relawan gelombang sebelumnya yang terlihat sangat akrab dengan anak-anak di sana. Kesan pertama melihat anak-anak Aceh adalah rupa wajah mereka yang sangat berbeda dengan kebanyakan muka-muka orang jawa. Mereka lebih mirip dengan orang-orang India, Arab dan konon katanya ada daerah di Aceh yang perempuannya bermata biru karena berasal dari keturunan Portugis. Selain itu, setelah kami merapikan barang-barang bawaan kami, saya pun berkesempatan berinteraksi dengan anak-anak di sana. Sebagian besar dari mereka dapat berbahasa Indonesia, namun ada satu-dua anak yang tidak dapat berbahasa Indonesia. Alhasil, kita berbicara kurang nyambung dan untuk itu kami memerlukan ‘penterjemah’ agar mengerti satu sama lain. Saat itu juga saya sedikit-sedikit belajar bahasa Aceh yang mudah. Seperti Inong yang artinya anak perempuan, agam yang artinya anak laki-laki, abang untuk lelaki yang lebih tua, kakak untuk perempuan yang lebih tua. Kalo mau menanyakan kabar bilang pu haba?, mau kemana bilang Ho Jak Kede?, tapi sekarang saya sudah banyak lupa kosa kata yang diajarkan anak-anak Aceh saat itu.

Sebelum maghrib, kami semua diantarkan ke daerah pengungsian yang berada di sebelah belakang sekolah sekitar 200 meter jauhnya. Saat memasuki pengungsian, langsung terlihat tenda-tenda yang bertebaran serta para pengungsi yang kebanyakan berada di luar tenda sedang melakukan aktivitas. Saya langsung berpikir, bagaimana mereka bisa hidup sekeluarga di tenda yang hanya berukuran 2×3 meter, yang kebanyakan satu keluarga berjumlah empat anggota keluarga. Memang, keadaan di pengungsian tidak menunjang kehidupan yang baik dari segi ekonomi, kesehatan, maupun psikologi. Namun, sepertinya pengungsian menjadi pilihan terakhir untuk tinggal sebelum pemukiman mereka yang ada di Pulau Aceh dibangun kembali. Namun, di sana sepertinya sudah banyak organisasi baik internasional maupun nasional seperti Oxfam dan PKPU. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan satu-satunya partai yang mendirikan posko di pengungsian tersebut. Mereka sangat membantu dalam membantu pemerintah dalam mengadakan rehabilitasi korban tsunami. Mereka pun memiliki fungsi-fungsi yang berbeda seperti dalam sanitasi (penyediaan air bersih) yang dilakukan oleh Oxfam, kesehatan yang difasilitasi PKPU dan pendidikan yang akan tim kami lakukan.

Waktu menunjukkan pukul 6 sore lewat tapi hari masih siang terang dan adzan maghrib juga belum dikumandangkan. Ternyata, walaupun tidak ada selisih jam antara Jakarta dan Banda Aceh, tapi terdapat perbedaan kondisi dan waktu shalat kurang lebih satu jam. Maklum, saya belum pernah keluar pulau jawa sebelumnya, paling jauh ke Yogyakarta, jadi sedikit aneh saat terjadi gap waktu. Alhasil, kami shalat maghrib pukul 7 malam di sebuah masjid sekitar 200 meter dari pengungsian. Masjid tempat kami shalat terlihat sudah tua dan sepertinya satu-satunya masjid yang cukup besar di daerah sini karena jamaahnya cukup banyak. Satu ciri khas dari masjid-masjid di Aceh adalah tempat wudhunya. Tempat wudhu bukanlah pancuran air seperti kebanyakan masjid yang pernah saya kunjungi, melainkan sebuah kolam air yang besar di mana semua jamaah mengambil wudhu di sebelah pinggir kolam. Setelah shalat, kami berkumpul bersama-sama dengan beberapa tokoh masyarakat di daerah tersebut membahas program yang akan LSM kami laksanakan di sini. Orang-orang Aceh di daerah sini terbuka dan mau menerima kami. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa mereka memiliki sejarah pahit dengan orang-orang dari jawa.

Malam harinya kami berkumpul lagi di sebuah rumah kecil di belakang sekolah dasar untuk melakukan briefing dan pembagian kelompok relawan di tempat-tempat pengungsian yang berbeda. Dalam briefing tersebut kami dijelaskan tugas kami sebagai relawan. Sebagian besar tugas kamia di tempat pengungsian adalah memfasilitasi anak-anak setingkat SD untuk mendapatkan pendidikan tambahan di luar sekolah formal yang tentunya disesuaikan dengan program rehabilitasi mental anak-anak korban bencana. Hal ini mengkondisikan kami untuk merancang program pendidikan yang lebih bersifat ‘belajar sambil bermain’. Selain itu, kami juga akan mengadakan penyuluhan dalam bidang kesehatan seperti pemeriksaan golongan darah, kesehatan gigi, dan cek kesehatan gratis. Pada akhir kegiatan, kami akan mendata anak-anak yang akan menerima beasiswa pendidikan dari Exxon MobilOil. Pada briefing juga diberitahukan bahwa kami akan dikelompokkan menjadi 3 kelompok sesuai dengan tempat-tempat pengungsian yang akan kami tempati. Tempat pengungsian yang akan menjadi tempat kegiatan kami ada tiga yakni di daerah Seuliemeum, Aceh Besar (tempat yang saat ini kami berada), di daerah Ujong Batu, Banda Aceh, dan satu lagi di daerah Samudera, AceH Utara. Untuk daerah Seuliemeum, yang ditugaskan adalah Bang Zain dan dua anggota perempuan lainnya, untuk daerah Ujong Blang yang ditugaskan adalah Bang Ali dan dua anggota perempuan lainnya. Sedangkan saya ditugaskan di daerah Samudera, Aceh Utara bersama Bang Rama, Kak Kiki, dan Kak Melissa. Kelompok kami lebih banyak dari kelompok lainnya, karena daerah Samudera di Aceh Utara akan lebih banyak kegiatannya dan tentunya barang bawaannya juga akan lebih banyak. Rencananya kami akan diberangkatkan pada malam keesokan harinya, tanggal 12 Juni 2005.

Sebelum kami berangkat ke tiap-tiap tempat pengungsian, esok harinya kami diajak untuk jalan-jalan ke beberapa tempat terkenal di Banda Aceh seperti Masjid Baiturrahman dan Pantai Ulhe-lhe. Selama awal perjalanan kami tidak melihat tanda-tanda bekas bencana tsunami, namun saat memasuki wilayah sekitar Masjid Baiturrahman baru kami melihat bekas kerusakan seperti ruko-ruko yang belum sempat direnovasi, hotel yang runtuh, pagar masjid yang hancur sebagian dan retakan di menara masjid. Namun, sebagian besar kehidupan kota Banda Aceh sudah mulai pulih kembali. Sesampainya di depan Masjid bersejarah tersebut, saya langsung mengagungkan kebesaran Allah dan takjub dengan arsitektur masjid serta bangga karena telah menjejakkan kaki di masjid terkenal tersebut. Setelah shalat sunah di dalam masjid Baiturrahman dan berfoto-foto di depan masjid, kami melanjutkan perjalanan ke daerah pantai Ulhe-lhe. Selama perjalanan barulah kami sadar bahwa bencana tsunami akhir tahun 2004 tersebut, sangatlah dashyat. Bagaimana tidak, sepanjang puluhan kilometer, daerah sekitar pantai telah tersapu gelombang tsunami dan menjadi daerah yang tidak berpenghuni. Bahkan daerah sejauh lima kilometer dari bibir pantai telah menjadi danau-danau air asin yang tentunya tidak dapat dimanfaatkan untuk tempat tinggal lagi. Padahal, sebelumnya daerah tersebut merupakan daerah pemukiman padat dan tempat tujuan wisata yang banyak dikunjungi orang. Perumahan saja raib ditelan ganasnya gelombang apalagi pepohonan. Satu-satunya yang masih selamat adalah sebuah masjid, sebuah menara, dan sebuah pohon. Masjid Baiturrahim masih berdiri kokoh walaupun pagar di sekelilingnya sudah hilang. Sebuah pohont setinggi lebih dari 30 meter yang berjarak sekitar 50 meter bibir pantai selamat dari gelombang tsunami. Dari pohon tersebut kita dapat membayangkan setinggi apa sebenarnya gelombang yang menerjang pantai Ulhe-lhe. Di ujung pohon tersebut bergelantungan sampah-sampah yang dibawa gelombang tsunami, dan dengan itu berarti gelombang tsunami itu tingginya sekitar tinggi pohon tersebut. Hal yang mencengangkan lagi adalah pondasi-pondasi dari bekas penginapan-penginapan pinggir pantai dan pelabuhan Ulhe-lhe. Terbayang betapa dashyat gelombang yang menerjang pantai ini waktu terjadinya bencana.

Setelah, lagi, berfoto-foto di pantai, kami kembali ke mobil untuk kembali karena sebentar lagi maghrib akan tiba. Sebelum sampai di mobil kami melihat sudah ada pelabuhan kecil yang baru dibangun untuk melayani kapal feri yang datang dari sabang. Di pelabuhan tersebut kami melihat banyak warga negara asing yang datang, yang sebagian besar, sebagai relawan. Salah satunya adalah dari negara Turki yang sepertinya membawa perlengkapan kesehatan dan edukasi bagi anak-anak. Tidak dapat dipungkiri memang, andil dari pihak internasional yang besar dalam proses rehabilitasi bencana tsunami di Aceh dan Nias. Namun, justru itu seharusnya menjadi dorongan bagi kita, bangsa Indonesia, untuk lebih berpartisipasi dalam proses rehabilitasi yang seharusnya menjadi pihak yang lebih bertanggung jawab. Mobil yang membawa kami melaju dengan kecepatan yang sedang, katanya di Aceh tidak boleh melaju dengan kencang karena akan dicurigakan sebagai anggota GAM yang memang sering melajukan kendaraannya dengan kencang saat menyerang kantor polisi atau rombongan TNI. Kalau tidak, polisi atau TNI dapat bertindak represif dengan mengejarnya atau menembaki kendaraan tersebut. Akhirnya kami sampai di base-camp dan melanjutkan mempersiapkan barang-barang yang akan kami bawa ke tempat pengungsian masing-masing. Saya sudah tidak sabar, pengalaman apalagi yang akan menanti di kemudian waktu di bumi Tanah Rencong…

To Be Continued

Advertisements

4 thoughts on “My Journey to Nanggroe Aceh Darussalam (2)

  1. Wah cerita yang sangat menarik dan inspiring
    Akan lebih mantap kalau Deri membubuhkan beberapa foto pada saat disana.
    Tetapi menarik juga mengenai keberadaan Posko Partai PKS di sana.. Wah lumayan concern juga dibandingkan partai-partai lainnya. Padahal belum ada Pilkada khan?
    Oke! Gw tunggu cerita selanjutnya!

  2. wah kak…
    gak nyangka….
    mmm… apa ya…???
    naik pesawat si emang serem… tapi kalo menurut gu tergantung… waktu gua berangkat ke suatu tempat dengan air asia… perjalanannya mulussss…. banget… walaupun kuping gua sakit juga… tapi sepulangnya dari sana… gua kayak naek metromini udara… malah keluar asap dari kabin… gak boleh ke toilet…di tambah kuping gua sakitnya amit-amitan… apalagi waktu landing kayak kena turbulens…
    tapi dari situ gua mulai berpendapat…
    emang si gak separah lion air yang sayap pesawatnya juga ikut kepak2an kayak burung beneran…
    tapi posisi pilot juga menentukan…
    gak penting ya commentnya….???~~`
    maklum baru belajar…

  3. Wow pengalaman yang paling berkesan yg pernah aku baca.Hebat kmu.Dulu ikut LSM ya?Tp alangkah bagusnya ada pict bukti kegiatan slama d sana.Apalagi gw penasaran pict pohon tinggi itu.Mudah2an kmu msih/punya pict itu.Btw itu bag 2.Bag 1nya mana?Bersambung judul apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s