Globalisasi dan Keadilan Global

Protests to WTO

Globalisasi merupakan sebuah tema besar dalam setiap pembahasan yang melibatkan semua pihak baik di tingkat internasional maupun di tingkat yang lebih nasional dan lokal. Selain itu, globalisasi juga merupakan bahasan yang bersifat debatable dimana konsep globalisasi bukan merupakan sebuah keadaan yang stagnan dan mutlak adanya. Globalisasi merupakan sebuah konsep yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Oleh sebab itulah, pandangan semua pihak terhadap konsep globalisasi yang ditawarkan dapat berbeda satu sama lain. Banyak pihak yang mengagungkan konsep globalisasi sebagai sbuah proses yang dapat semakin meningkatkan kesejahteraan bagi semua kalangan baik negara maupun non-negara. Tidak sedikit pula yang menyakinkan bahwa konsep globalisasi yang diterapkan saat ini merupakan sebuah proses yang justru telah mengakibatkan sebuah keadaan yang lebih buruk ketimbang masa-masa sebelumnya terutama dalam hal kemiskinan, kerusakan lingkungan dan kekerasan.

 

Globalisasi tidak dapat dipungkiri telah membawa peningkatan kesejahteraan ekonomi yang tidak pernah dicapai sebelumnya. Globalisasi, terutama kaitannya dengan sistem ekonomi liberal telah membawa begitu banyak perubahan terutama dalam peningkatan volume perdagangan dan akses perdagangan yang lebih bebas. Keadaan ini memungkinkan adanya proses kompetisi antara para produsen guna memasarkan produknya ke seluruh dunia. Globalisasi juga merupakan sebuah kondisi dimana terjadi pemadatan ruang dan waktu, sehingga jarak dan waktu sudah bukan masalah lagi untuk sebuah hubungan. Kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi, transportasi dan informasi telah membawa perubahan begitu radikal dalam setiap segi kehidupan manusia. Salah satu dampaknya adalah timbulnya sebuah kesadaran bahwa manusia tidak tinggal sendirian dan bukanlah sebuah hal yang bijak untuk bertindak menurut ketentuan sendiri. Common Awareness tersebut telah membawa kepada sebuah kerjasama internasional baik di level state, market maupun civil society. Akibatnya, banyak bermunculan kelompok kerjasama baik bilateral, multilateral, regional maupun internasional seperti munculnya International Governmental Organizations (IGO’s) seperti United Nations, OIC (Organization of Islamic Countries), maupun Non-Aligned Movement. Selain itu, kelompok civil society dalam hal ini tidak mau ketinggalan, mereka banyak mendirikan NGO (Non-Governmental Organizations) yang bergeral di banyak bidang mulai dari sosial, politik, lingkungan, gender, ekonomi, budaya dan masih banyak lagi.

 

Namun, sebagai sebuah proses dan perkembangan, seperti yang telah dikatakan, bahwa globalisasi yang ditawarkan saat ini ternyata memiliki keburukan-keburukan yang tidak kalah besar dan pentingnya dengan peranan yang telah dihasilkan dalam proses globalisasi. Kita dapat saja menilai bahwa globalisasi telah mengangkat tingkat kesejahteraan ekonomi di dunia yang pernah dicapai oleh sistem sebelumnya. Namun, tidak dapat dipungkiri juga bahwa globalisasi telah menyebabkan kemiskinan yang belum pernah dicapai oleh sistem sebelumnya. Selain itu, saat ini telah terjadi ketimpangan yang sangat signifikan baik dalam level individu, kelompok, maupun state. Konsep kapitalisme ekonomi, menurut saya, merupakan sebuah sistem yang hanya dapat berjalan di tengah kesengsaraan orang lain (orang miskin-red). Kompetisi yang merupakan jiwa kebebasan yang diusung oleh kapitalisme tidak disertai penilaian terhadap kadar kemampuan (capabilities level). Tidak heran jika banyak terjadi unjuk rasa yang menolak adanya perdagangan bebas seperti yang ditawarkan oleh WTO (World Trade Organization) ke beberapa negara. Mereka (negara miskin) sadar bahwa mereka memiliki kapabilitas dan sumber daya yang terbatas sehingga mereka yakin bahwa produk-produk mereka akan di’lumat’ oleh produk-produk dari negara-negara industri besar jika produk tersebut dibiarkan bebas masuk ke pasar domestik.

 

Selain itu, globalisasi dalam prosesnya juga telah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang tidak pernah terjadi sebesar ini sebelumnya. Kerusakan hutan, habitat satwa liar dan langka, serta ekosistem yang mendukungnya telah tergerus oleh kepentingan-kepentingan korporasi kapitalis. Ketimpangan global terjadi dalam dua isu ini yakni ekonomi dan lingkungan. Negara-negara miskin telah dipaksa oleh negara-negara industri besar untuk menandatangani kesepakatan pembukaan pasar bagi produk-produk impor dengan dalih bahwa pembukaan pasar tersebut akan meningkatkan perekonomian negara yang bersangkutan dan tentunya akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi rakyatnya. Namun, kenyataan yang terjadi adalah pembukaan pasar hanya akan meningktatkan kesejahteraan kelompok-kelompok ekonomi asing dan segelintir kelompok domestik di negara tersebut. Kelompok lainnya hanya akan termangu melihat setumpuk produk-produk asing yang mengisi mal-mal dan departement store tanpa sanggup membelinya karena daya beli mereka yang rendah. Padahal, negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Eropa yang diwakili oleh Uni Eropa, masih melakukan sebuah tindakan proteksionisme terhadap produk-produk lokalnya terutama pertanian yang mereka nilai masih dinilai kurang stabil terhadap intervensi produk-produk asing. Mengapa negara-negara miskin tidak dapat berkutik dan menerima semua tekanan negara-negara ekonomi besa? Hal ini kembali lagi pada konteks ketidakadilan global.

 

Dalam lingkungan dapat kita lihat konkritnya dalam Protokol Kyoto dan Konferensi Tingkat Tinggi Ekonomi Negara-negara Asia Pasifik yang diadakan tahun ini di Sidney, Australia. Kerusakan lingkungan yang lebih banyak diakibatkan oleh perambahan hutan oleh perusahaan-perusahaan transnasional telah mengakibatkan menurunnya tingkat ekologi di berbagai negara miskin. Selain itu, hal ini juga mengakibatkan suatu hal yang lebih besar seperti pemanasan global yang tidak hanya menimpa satu negara tapi seluruh negara di dunia. Ketimpangan global dalam hal ini terjadi ketika memasuki pembahasan siapa yang salah dan harus bertanggung jawab atas semua hal tersebut. Negara-negara miskin dan besar saling menyalahkan di antara mereka. Namun, yang harus disoroti dalam hal ini adalah, walaupun telah terjadi kesepakatan di antara negara-negara miskin dan kaya tentang pertanggungjawaban masalah lingkungan tersebut, tetap negara miskin menjadi pihak yang dirugikan. Ketentuan seperti Protokol Kyoto yang tidak diratifikasi oleh Amerika Serikat, padahal negara tersebut menyumbang prosentase terbesar dalam kerusakan ekologi telah menyebabkan tersendatnya dialog. Ketentuan tentang CDM (Clean Development Mechanism) juga lebih menguntungkan pihak negara besar dan lebih menekan pada negara miskin karena ketentuan-ketentuannya tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi di negara-negara miskin.

Pada akhirnya, globalisasi tidak hanya dipandang sebagai sebuah proses yang tunggal dan niscaya (inevitable), namun lebih harus dipandang sebagai sebuah proses yang harus dikritisi dalam perkembangannya. Globalisasi memiliki sisi baik dan buruk yang berdampak besar terhadap seluruh kehidupan manusia di dunia karena ruang lingkupnya yang luas. Oleh karena itulah, yang terpenting sekarang bukanlah mengambil secara mentah atau menolak konsep globalisasi yang ditawarkan, namun lebih kepada bagaimana globalisasi ini dapat dikendalikan menjadi sebuah proses yang lebih berkeadilan global.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s