My Journey To Nanggroe Aceh Darussalam (1)

Tentu kita masih ingat akan bencana dahsyat yang menimpa saudara-saudara kita di belahan bumi Indonesia sebelah paling barat. Tanggal 26 Desember 2007 memang merupakan hari yang paling bersejarah bagi dunia karena pada tanggal tersebut terjadi bencana gelombang tsunami terbesar selama ratusan tahun lamanya yang tidak hanya menimpa suatu negara tapi hampir seluruh negara di pesisir Samudera Hindia seperti Indonesia, Thailand, Bangladesh, India, Sri Lanka, Ethiopia dan Madagaskar serta negara Afrika sebelah timur lainnya. Selain itu, bencana ini juga telah menelan korban ratusan ribu orang meninggal dunia dengan jumlah terbesar menimpa Indonesia dengan jumlah korban sekitar 200 ribu lebih jiwa yang melayang.

Hari Selasa, Tanggal 28 Desember 2005, ketika itu saya sedang berada di dalam kereta listrik jurusan Universitas Indonesia-Kalibata. Kebetulan dan memang biasanya, saya tidak mendapat kursi karena banyaknya penumpang yang naik saat itu (tapi tidak desak-desakan seperti biasanya). Saat itu, seorang penumpang yang duduk di kursi sebelah depan sedang membaca koran. Karena penasaran, saya mengintip cover depan koran harian tersebut. Bagian depan koran tersebut bertajuk “Aceh Bergelimpangan Mayat”. Saat itu, saya tidak menggubris dan tidak terlalu menaruh perhatian banyak pada judul yang tertera di cover koran tersebut. Sesampainya di rumah, ketika itu sudah sore sekitar jam 5an, biasanya sekitar jam tersebut televisi sedang menayangkan berita sorenya. Alangkah kagetnya saya ketika menyadari bahwa hampir seluruh berita di televisi berisikan peristiwa tsunami yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias, Sumatera Utara. Ternyata saya termasuk orang yang ketinggalan berita, karena tsunami terjadi pada hari Minggu, 26 Desember 2007, tepatnya dua hari sebelum saya mengetahui berita tragis tersebut.

Sekitar seminggu setelah kejadian berita lebih didominasi oleh program tanggap darurat yang dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat Indonesia maupun mancanegara yang berempati terhadap nasib korban tsunami di Aceh dan Nias. Pos relawan dibuka di banyak tempat di hampir seluruh Indonesia dan tentunya banyak pula orang yang mendaftarkan diri. Saat itu timbul keinginan yang sangat untuk mendaftarkan diri, apalagi saat itu saya sudah berumur 18 tahun (persyaratan usia minimal seseorang yang menjadi relawan harus berusia 18 tahun). Tapi apa boleh buat, Allah masih manahan saya di Jakarta dan hanya bisa berdoa bagi saudara-saudara kita di sana. Saat itu, fokus utama kegiatan relawan adalah mengevakuasi korban baik yang selamat maupun yang tidak. Keinginan kembali menggebu untuk pergi ke Aceh ketika saya dihubungi oleh teman satu SMA dulu, yang sekarang kuliah di IPB jurusan Kehutanan. Dia memberi tahu bahwa dia sedang berada di dalam perjalanan menuju pulau Nias, Sumatera Utara sebagai relawan. Saat itu ia mengatakan bahwa ia sedang berada di dalam sebuah kapal laut yang mengangkut bahan makanan dan obat-obatan serta logistik yang diperlukan bagi para korban. Saat itu saya langsung bilang ke dia bahwa dia sangat beruntung karena mendapatkan kesempatan besar untuk membantu saudara-saudara kita di Nias.

Hari-hari pun berlalu tanpa pernah sekalipun kosong dari pemberitaan tentang evakuasi para korban dan juga proses pengungsiannya. Sekitar tiga bulan setelah kejadian, fokus utama para relawan bukan lagi mengevakuasi korban tapi lebih memfokuskan kepada penanganan korban yang selamat yang saat itu berstatus pengungsi. Para relawan, selain mengadakan perbaikan dalam infrastruktur seperti pembuatan jembatan, jalan raya yang rusak, serta mendirikan tenda dan barak pengungsian bagi tempat tinggal para pengungsi, mereka juga mengadakan proses rehabilitasi bagi para korban untuk menghilangkan trauma atas kejadian yang menimpa mereka secara tiba-tiba.

Saat itu, karena saya merasa terlalu menghabiskan waktu, uang, dan tenaga yang cukup besar untuk pulang-pergi Jakarta-Depok, maka saya memutuskan untuk mencari kost-an di sekitar kampus saya di Bilangan Depok. Akhirnya, pada bulan Maret saya mendapat sebuah kost yang cukup murah untuk kantong saya di daerah Kelurahan Kukusan tepatnya di jalan Palakali Raya. Dari kost-an inilah, awal mula kenapa saya bisa mendapat kesempatan untuk menjejakkan kaki ke tanah Aceh, sebuah kesempatan yang, menurut saya, sudah sangat diatur oleh Allah. Karena, sebelumnya saya sudah berusaha untuk berangkat dengan mendaftar ke berbagai posko relawan tapi tidak berhasil, akhirnya tanpa diusahakan, ada seorang teman yang menawarkan untuk pergi ke Aceh sebagai relawan.

Teman saya ini adalah teman satu kost-an dan juga seorang mahasiswa UI Fakultas Psikologi angkatan 2001. Langsung saja tawaran dari dia saya terima dengan sangat antusias. Katanya saya sebelumnya harus ikut interview terlebih dahulu yang kebetulan diadakan di Yong Ma, Taman Korea FISIP UI lantai 2 sekitar jam 4 sore pada hari Rabu, tanggal 11 Mei 2007. Saking antusiasnya, saya tidak mau kesempatan ini lewat hanya karena saya datang terlambat, dan sepertinya saya memang akhirnya yang datang pertama kali (karena belum ada siapa-siapa dan kantornya pun masih dikunci). Beberapa menit kemudian baru ber’munculan’ satu persatu peserta interview yang lain. Namun, kita harus menunggu beberapa menit lagi menunggu orang yang akan mewawancarai kami. Akhirnya setelah sekitar 45 menit saya menunggu, panitia datang dan kami pun langsung masuk ke dalam ruangan yang menjadi sekretariat panitia tersebut. Saat itu ada 4 orang laki-laki dan 8 orang perempuan yang mengikuti proses interview.

Pada proses interview saya hanya harus mengisi formulir dan diberi beberapa pertanyaan tentang riwayat organisasi dan pendidikan saya. Setelah itu paniti bilang kalau pengumuman kami lulus atau tidak akan dilayangkan melalui SMS. Saya kira kami akan langsung diterima (saya pikir interview hanya formalitas) ternyata tidak dan itu semakin membuat penasaran karena saya tidak tahu akan diterima atau tidak. Dua hari kemudian baru saya mendapat SMS yang memberi kabar bahwa saya akhirnya diterima menjadi relawan yang akan diberangkatkan ke Aceh untuk melakukan proses rehabilitasi khususnya dalam bidang pendidikan. Sebelum lebih jauh mungkin saya akan jelaskan lembaga yang akan memberangkatkan kami ke Aceh.

Lembaga ini bernama PEACE Foundation yang kepanjangannya Yayasan Peduli Pendidikan Anak Aceh. Lembaga ini merupakan sebuah NGO (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang khusus bergerak di bidang pendidikan. Lembaga ini didirikan sekitar bulan Oktober tahun 2004 yang artinya dua bulan sebelum peristiwa tsunami menimpa Aceh. Tapi sebenarnya lembaga ini ditujukan bagi rakyat Aceh terutama yang mengalami masa-masa konflik panjang di Aceh akibat DOM dan sebagainya, sehingga peristiwa tsunami yang telah menimbulkan korban pengungsi untuk sementara dijadikan sebagai proyek utama bagi lembaga tersebut. Lembaga ini mengadakan program tanggap darurat yang dikhususkan untuk melakukan rehabilitasi pendidikan di kawasan pengungsi baik tenda maupun barak pengungsian. Lembaga ini berencana memberangkatkan relawan sebanyak 9 gelombang, tentunya dengan jumlah dan dana yang berbeda. Kebetulan, saya mendapat giliran berangkat sebagai gelombang ke-9 yang artinya gelombang terakhir yang diberangkatkan ke Aceh. Saat gelombang ke-9 inilah sebenarnya tanggung jawab lebih besar harus diemban, karena harus bertanggung jawab atas dana sponsor yang sangat besar dari Exxon Mobile Oil yang memiliki cabang di Arun, Aceh Utara.

Melanjutkan kembali cerita saya sebelumnya, setelah kami menerima kabar bahwa kami diterima, kami diharuskan untuk kembali datang pada pelatihan relawan yang dilakukan selama 3 kali. Pelatihan itu meliputi pelatihan kreatifitas dan pengembangan kemampuan kami, para relawan, dalam memberikan pengajaran yang efektif bagi anak-anak. Setelah melalui proses pelatihan tersebut kami selanjutnya diberitahu bahwa kami akan diberangkatkan pada bulan Juni tepatnya hari Sabtu tanggal 11. Akhirnya, semua proses telah selesai dan saya tinggal menunggu waktu keberangkatan kami. Kebetulan, setelah proses pelatihan selesai, saya langsung menghadapi masa ujian akhir semester selama dua minggu lamanya, jadi sampai masa keberangkatan saya tidak terlalu bosan menunggu. Baru pada hari Jum’at tanggal 10 Juni 2007, akhirnya ujian selesai dan para relawan berkumpul di FISIP UI untuk segera berangkat ke rumah salah seorang panitia dan bermalam di sana sebelum kami berangkat esok harinya ke bandara Soekarno-Hatta.

To Be Continued….

Advertisements

3 thoughts on “My Journey To Nanggroe Aceh Darussalam (1)

  1. Wah seru bgt kisah lu Der..
    Tapi gw paling di bagian awal tulisan lu.
    Masa lu batu tahu 2 hari setelah bencana terjadi?
    Oo mungkin dulu lu belum demam blog kali ya. Ha25x

    Meskipun gw tdk pergi ke Aceh, gw selalu membawakan teman-teman di Aceh dalam doa gw. Dukungan doa juga boleh khan.

  2. Yah maap..saya dulu katro mas…

    he2x..

    apa pun bentuk bantuan kita itu dah bernilai banget buat saudara-saudara kita disana..
    dan jangan salah..justru doa yang musti dikuatin sekarang,, soalnya bantuan dah banyak, orang-orang pinter dah pada disediain..apa lagi kalau bukan doa biar semua itu bisa dikelola dengan baik n berkah..
    Setuju..???

  3. cerita keduanya mana mas?
    kok nggak bersambung..
    kalau ini difilmkan, penonton keburu kabur.’

    Oya, temen HI dari Unpar namanya Calvin pengen kenalan ama lu.
    blognya republikbabi.wordpress.com
    kasi comment di blog dia.
    biar rame blog lu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s