Dua Tahun MoU Helsinki: Bahaya Konflik Laten

 

1412tri1.jpgKetua Aceh Monitoring Mission (tengah) menggandeng tangan kedua penanda tangan MoU Helsinki yakni Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin (kiri) dan Pimpinan GAM, Tgk Malek Mahmud (kanan)

 

Dua tahun sudah bumi Nanggroe Aceh Darussalam mengecap nikmatnya perdamaian yang selama ini didambakan oleh masyarakat Aceh maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Aceh dengan segala ceritanya, nyaris tidak pernah merasakan perdamaian semenjak kehadiran pemerintah kolonial di nusantara pada abad ke-19 dilanjutkan oleh gerakan separatis yang dimulai dari DI/TII hingga yang terakhir Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Perjanjian perdamaian yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 menyimpan harapan besar akan terciptanya perdamaian yang abadi di bumi Rencong.

 

 

Namun, perdamaian yang diidam-idamkan bukanlah suatu hal yang taken for granted. Perdamaian di bumi Aceh harus diusahakan oleh segenap komponen bangsa Indonesia. Betapa tidak, konflik yang terjadi bukanlah konflik singkat, begitupun dengan perdamaian yang diharapkan tidak bisa sekejap saja diwujudkan. Setelah peristiwa tsunami yang sama pada tanggal 26 Desember 2004, Sri Lanka juga mengalami masa perdamaian antara pemerintah Bangladesh dan gerakan separatis Tamil Elam, namun perdamaian tersebut hanya sementara yang akhirnya perang diantara kedua pihak kembali pecah. Begitu juga ketika, salah satu gunung merapi meletus dashyat di Pulau Mindanao, terjadi perdamaian antara pemerintah Filipina dan MILF, namun sekali lagi, perdamaian tersebut hanya sementara sehingga konflik di kedua belah pihak tidak bisa dielakkan.

 

Konflik laten di Aceh sangat berpotensi menjadi konflik bersenjata, seperti apa yang terjadi di Filipina dan Sri Lanka. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mencegah dan meredam konflik laten tersebut. Pembangunan yang terjadi di Aceh setelah tragedi tsunami dan paska penandatangan MoU sebagai harus tepat guna. Tepat guna yang saya maksudkan disini adalah pembangunan yang berorientasi pada korban (victim-oriented). Pembanguanan akan semakin memperbesar konflik laten apabila tidak sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat Aceh. Pembangunan fisik yang dilakukan oleh Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh telah mencakup pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, pelabuhan, terminal, dan jembatan, selain itu juga pembangunan kebutuhan primer masyarakat seperti sekolah, perumahan, dan rumah sakit. Institusi bentukan pemerintah yang mengelola dana sebesar Rp.50 triliun tersebut telah mengadakan pembanguanan yang sangat dibutuhkan untuk menunjang kehidupan masyarakat Aceh sebagai korban konflik dan bencana alam. Kinerja yang sama juga dilakukan oleh Badan Reintegrasi-Damai Aceh (BRA) yang bertanggung jawab kepada pemulihan dan penyelesaian masalah pada korban konflik Aceh.

 

 

Jika dilihat dari statistik yang ada pada kedua badan pemerintah tersebut, seharusnya kondisi Aceh harus jauh lebih baik dari keadaan sebelum perdamaian. Namun, kondisi nyata di lapangan berkata lain. Masih banyak permasalahan-permasalahan yang luput dari program pemerintah. Program rehabilitasi yang dilakukan oleh pemerintah ternyata tidak bisa menekan angka kemiskinan di Aceh yang mencapai 48 persen, angka pengangguran, tingkat pendidikan, bahkan justru angka kriminalitas semakin meningkat. Hal ini menurut saya, dikarenakan oleh pembangunan yang hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tanpa meningkatkan pembangunan non-fisik bagi masyarakat Aceh. Oleh karena itu, tidak heran apabila masih banyak anak-anak usia sekolah yang tidak bersekolah walaupun sekolah sudah dibangun, masih banyak korban yang masih menetap di barak-barak pengungsian padahal sudah dibangun perumahan bagi mereka, masih banyak korban konflik yang memendam kebencian kepada pemerintah pusat (jawa-red). Pembangunan non-fisik yang seharusnya dilakukan minimal sebanding dengan pembangunan fisik, dilakukan guna memberdayakan masyarakat Aceh sebagai korban untuk lebih percaya diri kepada kemampuan mereka sendiri untuk membangun Aceh. Kepada mereka harus dibangun harga diri yang kuat untuk tidak selalu berpangku tangan kepada pihak lain. Hal inilah yang tidak terjadi dalam program rehabilitasi Aceh, sehingga akan kita sering lihat bahwa sebagian besar relawan merupakan orang asing, ataupun orang Indonesia non-Aceh (luar Aceh). Padahal, di Sri Lanka sendiri, program rehabilitasi langsung merekrut seluruh komponen masyarakat asli Sri Lanka mulai dari para ahli, teknisi, konsultan, sampai para pekerja merupakan orang asli Sri Lanka dan justru mereka bekerja lebih baik dan cepat diluar perkiraan sebelumnya.

 

Jangan sampai perdamaian yang telah berhasil dicapai tidak berlangsung lama hanya karena salah urus dalam proses pembangunan dan rehabillitasinya. Semua ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga tugas kita semua, seluruh komponen bangsa Indonesia. Bisa saja apabila perdamaian tersebut dapat saja berakhir suatu waktu dan konflik kembali pecah di bumi Serambi Mekah. Bukankah kita yang menginginkan Aceh masih tetap bagian dari NKRI, oleh karena itulah perdamaian dan pembangunan di Aceh juga harus menjadi agenda khusus kita sebagai satu bangsa.

Advertisements

4 thoughts on “Dua Tahun MoU Helsinki: Bahaya Konflik Laten

  1. Thanks berat..tapi itu sebenarnya butuh penjabaran lebih panjang tentang bagaimana bentuk sebenarnya pembangunan non-fisik di dalam proses rehabilitasi di Aceh..

    ya doain aja nanti bisa di post disini…

  2. Saya setuju 100 % dengan tulisan ini, dan itu sedang terjadi baru2 ini. kita hanya berharap jangan ada lagi perang di Tanah Rencong.
    dan pembangunan non fisik harus dilakukan sesuai dengan cultur daerah2 yang ada di aceh, karena daerah aceh masih banyak culture dan budaya yang berbeda2. dan ini perlu pendekatan khusus agar setiap program berjalan dengan baik.

  3. gimana kalo UU-PA mandek, ga ada kelanjutan pelaksanaannya?? menurut saya juga bisa jadi pemicu konflik lagi, apalagi banyak isinya yg gak sesuai dengan MoU helsinki…

    btw.. tulisan yg bagus, menambah pengetahuan buat saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s